30 April 2009
Kisah Isteri As-Syahid Imam Hassan Al-Banna-Lathiifah : Isteri Penguat Perjuangan Suami
Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia memerlukan seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah.----------
Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan-kekosong an yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.
Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekadar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.
Maka siapapun itu-pendampingnya- harus menyedari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.
Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang pendakwah. Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah meminta lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya.
Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.Lathifah sangat menyadari peranan dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidak meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah.. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya. Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat."Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlimen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi doktor. Dan Halah sebagai dosen kedoktoran anak di UniversitasAzhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami.
Selain juga untuk anak-anaknya, tentu Sekadar info tambahan:Hasan Al Banna syahid diusianya yang masih muda, sekitar 40 -an. Setelah seberondong timah panas ditembakkan oleh musuh-musuh Islam di sebuah jalan di Kairo.Sebenarnya Hasan Al Banna masih boleh diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat laknatullah Gamal Abden Naser, membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa bantuan dari siapapun juga, termasuk doktor-doktor di Rumah Sakit.Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.Musuh- musuh Islam pun banyak yang tertawa dan berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak pernah pergi meninggalkan pengikutnya. Allah terlalu mencintai hamba-Nya yang satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.Hal yang memilukan adalah, meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun yang diizinkan untuk mensolati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah uzur, saudara perempuan dan istrinya."
22 April 2009
langkah kaki

20 April 2009
cepatnya masa
rasa cepat sgt masa berlalu sekarang ni 19 April 2009
Uhibbuki fillah ~~~
Salam,
Setiap kali saya berym dgn dia iA kami akan berbicara sesuatu yg mendekatkan diri kepada Allah. Alhamdulillah. Saya dapat merasakan itu. Dia juga begitu. Kami tidak pernah bersua. Mungkin saya pernah lihat gambarnya tp saya kurang pasti details wajahnya. Ini kali pertama saya merasakan perhubungan sebegini rupa. Menarik.
Kadang-kadang sengaja saya menegur dia di ym. Begitu juga dia. Kadang2 dia tegur status ym saya, begitu juga saya. As simple as that~ (^_^)
Tapi dgn izin Allah setiap kali selepas habis berym dgnnya, hati saya rasa dekat dgn Allah. Pelik tp saya amat bersyukur. Tautan hati dan ruh yang Allah kurniakan telah mengikat kami bersama. Walaupun kami tidak pernah melihat wajah masing2 tp ruhnya dapat saya rasa.
Ukhti, You know who you are. Moga dapat bersua di alam reality dgn izin-Nya suatu hari nanti.
Bg saya, inilah yg dikatakan ukhuwah yg terjalin atas dasar kasih dan sayang kpd Allah Tautan jiwa dan ruh yg hanya kami merasakannya.
Uhibbuki fillah.
Alhamdulillah.Thank YOU Allah for my sister (^_^)
16 April 2009
syukur (^_^)
alhamdulillah.. alhamdulillah.. alhamdulillah
telah selesai test biochemistry hari ni dan keputusannya pun sudah pun diemailkan. rasa bersyukur sangat sbb dah lepas. kalau nak diikutkan usaha, memanglah tidak layak untuk saya mendapat keputusan seperti ini. namun, saya selalu ingatkan diri ini untuk bersyukur, insya Allah. kalau kita sentiasa bersyukur dengan apa yang Allah berikan, Allah pasti akan menambah rezeki kepada kita, seperti dalam surah ibrahim, ayat 7 :
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat"." 14 :7
banyak kelebihan menjadi orang yang bersyukur ni. mereka tahu, faham dan sedar bahawa semua nikmat yang diberikan datangnya daripada Allah. bukan dan bukan dan bukan dari usaha mereka sendiri. kita hanya boleh berusaha tetapi pengakhirannya ditetapkan oleh Allah.
saya teringat satu kisah ni. tempatnya di surau blok e kolej mara banting. waktu tu dah nak dekat final exam ib. ukhuwah pada waktu itu sangatlah indah [semoga ukhuwah ini membawa ke jannah].
seorang ukhti menyatakan pendapatnya.. lebih kurang macam ni la, kalau Allah memang nak berikan sesuatu kejayaan kepada kita, macam-macam buleh berlaku... contohnya kalo jawapannya 5 tetapi kita tulis -5, Allah buleh je bagi pemeriksa tidak nampak tanda negative (-) tu.. hebatkan Allah!
oleh itu, kita perlulah meletakkan sepenuh-penuh pengharapan kepada Allah. seperti mana dalam surah al-fatihah yang selalu kita kumat-kamitkan dalam solat setiap hari,
"hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" 1:5
takutlah juga sebab kadang-kadang kita terleka sewaktu belajar kerana kita sangka usaha kita sahaja sudah cukup untuk menentukan keputusan peperiksaan. orang yang merasakan dirinya serba cukup ini disebutkan dalam al-Quran sebagai orang yang melampaui batas. surah al-Alaq, ayat 6 dan 7
"sekali-kali tidak! Sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup" 96 : 6 dan 7
moga-moga kita semua tidak termasuk dalam golongan yang melampaui batas. amin~
semoga bermanfaat (^_^)
04 April 2009
usrah is rice!
Usrah is not like cheese cake
U don’t eat it everyday
Usrah is rice
U love it and u eat it everyday
U never bored of it
U never feel full without rice
Wherever u go, u need it
nice lines eh!
quoted from the following videos
2 great videos which i found very intresting
the 2nd one can't be embedded here.. so, try the link :)
bidayatul hidayah 6 1
bidayatul hidayah 6 2
http://www.youtube.com/watch?v=gpvXktDZD20&feature=channel
01 April 2009
tahajjud *^_^*
